
Jakarta – Nasi sisa yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang ternyata tidak selalu aman untuk dikonsumsi. Para ahli mengingatkan, kesalahan dalam menyimpan nasi matang dapat meningkatkan risiko keracunan makanan akibat bakteri tertentu.
Nasi merupakan makanan pokok yang kerap dimasak dalam jumlah banyak. Ketika masih tersisa, sebagian orang memilih menyimpannya untuk dimakan kembali. Namun, cara penyimpanannya perlu diperhatikan karena nasi matang yang berada terlalu lama pada suhu ruang dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Ahli saraf asal Amerika Serikat, Dr Baibing Chen atau yang dikenal sebagai Dr Bing, membagikan penjelasan mengenai risiko tersebut melalui sebuah video edukasi. Ia mengungkap adanya kasus langka ketika keracunan akibat nasi yang disimpan tidak tepat berujung pada gangguan serius hingga memengaruhi otak.
Dikutip dari DailyMailUK, Dr Chen menceritakan seorang pasien muda yang harus mendapatkan perawatan medis setelah mengonsumsi nasi yang tidak disimpan dengan benar. Pemeriksaan menunjukkan adanya kerusakan pada bagian tertentu di otaknya.
Kondisi tersebut dikaitkan dengan fried rice syndrome, yaitu keracunan makanan yang berhubungan dengan bakteri Bacillus cereus. Bakteri ini dapat berkembang pada makanan bertepung seperti nasi dan menghasilkan racun tertentu.
1. Racun Bisa Bertahan Meski Nasi Dipanaskan
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah proses memanaskan kembali nasi tidak selalu membuatnya aman.
Menurut Dr Chen, bakteri Bacillus cereus dapat mati ketika terkena panas. Namun, racun yang telah dihasilkan bakteri tersebut bisa tetap bertahan meskipun nasi kembali dipanaskan.
Karena itu, memasukkan nasi sisa ke dalam microwave atau memanaskannya di atas kompor bukan jaminan bahwa makanan tersebut bebas dari risiko.
2. Kasus Serius Memang Jarang Terjadi
Meski terdengar mengkhawatirkan, Dr Chen menegaskan bahwa keracunan parah hingga menyebabkan kerusakan otak merupakan kondisi yang sangat jarang.
Ia juga memahami alasan banyak orang merasa nasi sisa aman karena sudah terbiasa mengonsumsinya sejak lama tanpa mengalami masalah kesehatan.
Namun, risiko tetap ada apabila makanan tidak ditangani dan disimpan dengan benar. Dampaknya dapat menjadi lebih serius pada kelompok tertentu, termasuk anak-anak dan remaja.
3. Nasi Matang Bisa Jadi Tempat Bakteri Berkembang
Risiko tidak hanya berlaku pada nasi. Makanan matang lainnya, termasuk pasta, juga dapat menjadi media pertumbuhan bakteri apabila terlalu lama berada pada suhu ruang.
Dokter Joe Whittington sebelumnya turut mengingatkan masyarakat mengenai kebiasaan meninggalkan nasi dan pasta matang di luar lemari pendingin.
Ia menyinggung kasus seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang meninggal setelah mengonsumsi pasta yang diduga telah disimpan selama beberapa hari.
Menurutnya, makanan seperti nasi dan pasta sebaiknya tidak dibiarkan dalam kondisi matang pada suhu ruang terlalu lama karena bakteri dapat berkembang dengan cepat.
4. Jangan Biarkan Nasi Lebih dari Dua Jam
Dr Whittington menyarankan agar nasi atau pasta matang tidak dikonsumsi jika sudah berada pada suhu ruang selama lebih dari dua jam.
Semakin lama makanan berada dalam kondisi tersebut, semakin besar peluang bakteri berkembang dan menghasilkan racun yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan.
Karena itu, nasi yang tidak langsung disantap sebaiknya segera ditangani setelah matang.
5. Segera Dinginkan Jika Ingin Disimpan
Dr Chen menyarankan nasi matang yang tidak akan langsung dimakan segera didinginkan, idealnya dalam waktu sekitar satu hingga dua jam setelah dimasak.
Setelah itu, nasi dapat disimpan di lemari pendingin agar pertumbuhan bakteri lebih terkendali.
Sebaliknya, jika nasi sudah dibiarkan hampir seharian pada suhu ruang, sebaiknya tidak mengambil risiko dengan tetap mengonsumsinya.
Meski keracunan parah akibat nasi sisa tergolong langka, cara menyimpan makanan tetap penting diperhatikan. Nasi matang yang segera didinginkan dan disimpan dengan tepat jauh lebih aman dibandingkan nasi yang dibiarkan berjam-jam pada suhu ruang.
