
Jakarta – Makanan ultra-olahan (ultra-processed foods atau UPF) semakin menjadi perhatian para ahli kesehatan. Pasalnya, konsumsi makanan jenis ini dalam jumlah berlebihan dikaitkan dengan meningkatnya risiko obesitas hingga berbagai penyakit kronis.
UPF merupakan produk pangan yang diproses secara industri dengan tambahan berbagai bahan seperti minyak olahan, pemanis, pengawet, pengemulsi, serta penstabil. Kandungan tersebut membuat makanan lebih awet dan praktis, tetapi berpotensi memberi dampak kurang baik bagi kesehatan jika terlalu sering dikonsumsi.
Sejumlah penelitian menunjukkan pola makan tinggi UPF berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan metabolisme, penyakit jantung, hingga masalah kesehatan kronis lainnya. Sebaliknya, mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan disebut dapat membantu proses penurunan berat badan dan memperbaiki kesehatan secara keseluruhan.
Mengutip Fox News, berikut lima makanan ultra-olahan yang sebaiknya dibatasi.
1. Saus Tomat Kemasan
Saus tomat siap pakai sering kali mengandung gula tambahan dalam jumlah cukup tinggi. Jika dikonsumsi terus-menerus, kandungan tersebut dapat meningkatkan asupan kalori dan berdampak pada kesehatan metabolik.
Pendiri Berg Institute of Health & Wellness, Dr. Eric Berg, menyoroti penggunaan sirup jagung sebagai salah satu bahan yang perlu diwaspadai.
Menurutnya, saus tomat yang dikonsumsi secara rutin dapat meningkatkan asupan gula tanpa disadari. Karena itu, ia menyarankan konsumen memeriksa label komposisi dan memilih produk dengan kandungan gula rendah atau tanpa tambahan gula.
2. Yogurt Berperisa
Tidak semua yogurt berperisa merupakan pilihan sehat. Beberapa produk mengandung pemanis tambahan, gula dalam jumlah tinggi, hingga bahan penstabil yang membuat nilai gizinya berkurang.
Dr. Berg menyarankan memilih yogurt tawar atau plain yogurt, kemudian menambahkan buah segar sebagai pemanis alami.
Meski demikian, ahli nutrisi Daniel Rehal menilai yogurt tetap memiliki manfaat berkat kandungan probiotik hasil proses fermentasi. Bakteri baik tersebut berperan menjaga kesehatan saluran pencernaan sekaligus mendukung sistem kekebalan tubuh.
3. Biskuit Asin
Crackers atau biskuit asin kerap dianggap sebagai camilan ringan. Padahal, banyak produk dibuat menggunakan tepung olahan, gula tambahan, serta minyak yang kurang sehat.
Kombinasi bahan tersebut, terutama jika rendah serat, dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah ketika dikonsumsi berlebihan. Sebagai alternatif, Dr. Berg menyarankan memilih camilan berbahan kacang-kacangan atau biji-bijian dengan kandungan nutrisi yang lebih baik.
4. Candy Bar
Candy bar termasuk salah satu contoh makanan ultra-olahan dengan kandungan gula, pati olahan, minyak nabati, serta berbagai zat aditif yang tinggi. Di sisi lain, produk ini hanya mengandung sedikit nutrisi penting.
Menurut Dr. Berg, konsumsi candy bar secara rutin dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme dan kesehatan jantung akibat tingginya gula serta lemak tidak sehat yang terkandung di dalamnya.
5. Es Krim Cone
Bukan hanya es krimnya, cone atau wadah renyah yang digunakan juga termasuk makanan ultra-olahan. Cone umumnya dibuat dari tepung olahan, gula tambahan, minyak, dan berbagai bahan tambahan pangan.
Ketika dipadukan dengan es krim, jumlah gula dan lemak yang dikonsumsi menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, Dr. Berg menyebut kombinasi tersebut sebaiknya tidak terlalu sering dijadikan camilan agar risiko kesehatan dapat diminimalkan.
