
Jakarta – Informasi tentang makanan dan nutrisi sangat mudah ditemukan, tetapi tidak semuanya bisa dipercaya begitu saja. Sejumlah anggapan yang sudah lama beredar ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta ilmiah.
Lynne Murphy, ahli gizi dari Nutri Lean Inggris, mengatakan kebutuhan nutrisi setiap orang bisa berbeda. Usia, aktivitas sehari-hari, kondisi kesehatan, hingga faktor genetik dapat memengaruhi respons tubuh terhadap makanan.
Karena itu, pola makan sehat sebaiknya tidak hanya mengikuti tren. Mengonsumsi lebih banyak sayuran, membatasi makanan ultra-proses, serta memperhatikan respons tubuh terhadap makanan dapat menjadi dasar pola makan yang lebih baik.
Dikutip dari DailyMailUK, berikut tujuh anggapan tentang makanan yang sebaiknya tidak lagi dipercaya mentah-mentah.
1. Semua Lemak Harus Dihindari
Lemak sering dianggap sebagai penyebab utama kegagalan diet. Padahal, tubuh tetap membutuhkan lemak untuk menjalankan berbagai fungsi penting.
Lemak tak jenuh yang terdapat pada alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun misalnya, dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Lemak juga berperan dalam fungsi otak dan membantu tubuh menyerap vitamin tertentu.
Yang perlu diperhatikan adalah jenis dan jumlah lemak. Asupan lemak trans serta konsumsi lemak jenuh secara berlebihan sebaiknya dibatasi karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jantung.
2. Produk Gluten-Free Pasti Lebih Sehat
Makanan dengan label bebas gluten belum tentu memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik. Produk semacam ini memang penting bagi orang dengan penyakit celiac atau kondisi tertentu yang membutuhkan diet bebas gluten.
Namun, bagi orang yang tidak memiliki masalah dengan gluten, mengganti makanan biasa dengan produk gluten-free tidak otomatis membuat pola makan lebih sehat.
Bahkan, beberapa produk bebas gluten dapat mengandung gula, kalori, garam, atau bahan tambahan dalam jumlah lebih tinggi untuk mendapatkan tekstur dan rasa yang diinginkan.
3. Jus Buah Bisa Membersihkan Racun dari Tubuh
Tren minum jus untuk melakukan detoks masih cukup populer. Padahal, tubuh sudah memiliki organ seperti hati dan ginjal yang menjalankan fungsi penting dalam proses pembuangan zat sisa.
Selain itu, membuat jus dapat mengurangi kandungan serat yang secara alami terdapat dalam buah utuh. Jika jus juga diberi gula tambahan, jumlah gula yang dikonsumsi bisa semakin tinggi.
Karena itu, mengonsumsi buah secara utuh umumnya lebih baik untuk mendapatkan serat sekaligus berbagai nutrisi lainnya.
4. Karbohidrat Otomatis Membuat Gemuk
Roti dan pasta sering menjadi makanan pertama yang dihilangkan ketika seseorang menjalani diet. Padahal, karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh sebagai salah satu sumber energi.
Kenaikan berat badan pada dasarnya berkaitan dengan ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan yang digunakan tubuh, bukan semata-mata karena mengonsumsi karbohidrat.
Jenis karbohidrat juga perlu diperhatikan. Pilihan seperti gandum utuh, biji-bijian, dan makanan kaya serat dapat memberikan manfaat lebih dibandingkan karbohidrat olahan yang rendah serat.
5. Gula Alami Bisa Dikonsumsi Tanpa Batas
Label “alami” sering membuat seseorang menganggap pemanis tertentu lebih aman untuk dikonsumsi sebanyak-banyaknya. Padahal, gula tetap perlu dibatasi meskipun berasal dari sumber alami.
Madu, misalnya, tetap mengandung gula. Begitu juga buah yang memiliki gula alami, meski buah utuh memiliki keunggulan berupa serat, vitamin, mineral, dan berbagai senyawa bermanfaat.
Jadi, kata “alami” tidak berarti seseorang bebas mengonsumsi pemanis dalam jumlah berlebihan.
6. Makan Sedikit tapi Sering Selalu Mempercepat Metabolisme
Ada anggapan bahwa makan dalam porsi kecil setiap beberapa jam dapat membuat metabolisme terus aktif. Namun, kebutuhan makan setiap orang tidak sama.
Frekuensi makan tidak serta-merta membuat metabolisme bekerja jauh lebih cepat. Sebagian orang merasa nyaman dengan beberapa kali makan dalam porsi kecil, sementara lainnya lebih cocok dengan jadwal makan yang lebih jarang.
Yang lebih penting adalah mencukupi kebutuhan nutrisi dan mengatur jumlah asupan sesuai kebutuhan tubuh.
7. Makanan Rendah Lemak Selalu Lebih Baik
Produk rendah lemak juga kerap dianggap sebagai pilihan paling sehat. Padahal, kandungan lemak yang lebih rendah tidak otomatis berarti produk tersebut memiliki kualitas nutrisi yang lebih baik.
Dalam sejumlah produk, lemak yang dikurangi dapat digantikan dengan gula, garam, atau bahan tambahan lainnya untuk mempertahankan rasa dan tekstur.
Karena itu, jangan hanya melihat tulisan “low fat” pada kemasan. Periksa pula daftar bahan, jumlah gula, kalori, protein, serat, serta kandungan nutrisi lainnya.
Pada akhirnya, tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Daripada mengikuti mitos atau label makanan secara mentah-mentah, lebih baik perhatikan kualitas makanan, ukuran porsi, keseimbangan nutrisi, dan kebutuhan tubuh masing-masing.
