
Jakarta – Cabai selama ini lebih sering dikaitkan dengan sensasi pedas yang bisa membuat perut terasa tidak nyaman. Namun, di balik rasanya yang menyengat, sejumlah penelitian justru menemukan adanya hubungan antara kebiasaan mengonsumsi cabai dan risiko kematian yang lebih rendah.
Kandungan utama yang membuat cabai terasa pedas adalah capsaicin. Senyawa ini telah banyak diteliti karena memiliki sejumlah potensi manfaat bagi tubuh, termasuk kaitannya dengan kesehatan jantung, pembuluh darah, serta proses peradangan.
Meski begitu, temuan penelitian mengenai makanan pedas perlu dipahami secara hati-hati. Hubungan antara konsumsi cabai dan risiko kematian yang lebih rendah tidak berarti makanan pedas secara langsung menyebabkan seseorang memiliki umur lebih panjang.
Salah satu penelitian yang mendukung temuan tersebut dipublikasikan dalam Chinese Medical Journal pada 2025. Dikutip dari Up Worthy (18/07/2026), penelitian itu menemukan bahwa orang yang mengonsumsi makanan pedas setidaknya satu kali dalam seminggu memiliki risiko lebih rendah mengalami penyakit pembuluh darah dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah mengonsumsi makanan pedas.
Temuan mengenai cabai sebenarnya sudah muncul dalam penelitian sebelumnya. Berikut beberapa hasil riset yang menarik untuk diketahui.
1. Risiko Kematian Akibat Penyakit Kardiovaskular Lebih Rendah
Analisis yang dipresentasikan dalam American Heart Association Scientific Sessions pada 2020 melibatkan data lebih dari 570.000 orang.
Hasil analisis tersebut menemukan adanya hubungan antara konsumsi cabai secara rutin dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 25%.
Kelompok yang rutin mengonsumsi cabai juga tercatat memiliki risiko kematian secara keseluruhan 25% lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak rutin mengonsumsinya.
Namun, hasil tersebut tetap menunjukkan hubungan statistik dan bukan bukti bahwa cabai secara langsung mencegah kematian atau membuat seseorang berumur panjang.
2. Penelitian di Amerika Serikat Juga Menemukan Hubungan Serupa
Penelitian lain dilakukan oleh Larner College of Medicine di University of Vermont pada 2017. Para peneliti melihat kebiasaan konsumsi cabai merah pedas pada masyarakat Amerika Serikat.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi cabai merah pedas memiliki risiko kematian 13% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi cabai.
Temuan tersebut semakin memperkuat ketertarikan peneliti terhadap kemungkinan hubungan antara konsumsi cabai dan berbagai indikator kesehatan.
3. Capsaicin Jadi Senyawa yang Banyak Diteliti
Salah satu komponen yang menjadi perhatian dalam cabai adalah capsaicin. Senyawa inilah yang menghasilkan sensasi panas atau pedas ketika cabai dikonsumsi.
Dikutip dari Mayo Clinic, capsaicin diketahui berpotensi membantu tubuh membakar lebih banyak kalori. Senyawa ini juga dikaitkan dengan kemampuan melawan peradangan ringan yang berhubungan dengan kesehatan jantung.
Sejumlah penelitian turut menemukan bahwa capsaicin dapat memberikan pengaruh terhadap beberapa faktor risiko kesehatan, termasuk pada individu dengan kadar kolesterol HDL yang rendah.
4. Berpotensi Memberikan Berbagai Efek Kesehatan
Menurut Dr. Philip Goglia, ahli nutrisi dari California, cabai memiliki sejumlah kandungan yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan sehingga dapat dimasukkan ke dalam berbagai hidangan.
“Cabai memiliki banyak manfaat yang berpotensi memperpanjang usia dan dapat dimasukkan ke dalam berbagai jenis hidangan. Capsaicin pada cabai telah terbukti dalam berbagai penelitian memiliki sifat antibakteri, antikanker, dan antidiabetes. Selain itu, senyawa ini juga dapat membantu menurunkan kadar kolesterol pada individu dengan obesitas,” ujar Goglia.
Meski sejumlah manfaat tersebut telah diteliti, efek capsaicin terhadap kesehatan masih terus dipelajari dan hasil penelitian tidak selalu berarti manfaat yang sama akan dirasakan setiap orang.
5. Konsumsi Secukupnya Tetap Perlu Diperhatikan
Walaupun penelitian menunjukkan hasil yang menarik, makanan pedas bukan berarti dapat dikonsumsi tanpa batas. Pada sebagian orang, makanan pedas dapat memicu keluhan seperti sakit perut atau gangguan lambung.
Karena itu, konsumsi cabai tetap sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan toleransi masing-masing tubuh.
Pada akhirnya, penelitian yang ada menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi cabai atau makanan pedas dengan risiko kematian dan penyakit kardiovaskular yang lebih rendah. Namun, belum dapat disimpulkan bahwa cabai menjadi penyebab seseorang hidup lebih lama.
Pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, serta berbagai faktor gaya hidup lainnya juga dapat memengaruhi risiko penyakit dan harapan hidup.
