Pernahkah kamu membayangkan pergi ke kantor atau pasar, tapi "kendaraan" utamamu bukan motor atau mobil, melainkan samudra luas? Bagi warga di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, ini bukan adegan film fantasi, melainkan keseharian yang sudah mendarah daging. Minggu (4/10/2026) kemarin, ada pemandangan yang bikin mata melongo sekaligus takjub di Maritim Center Wakatobi. Sebanyak 600 perempuan berkumpul bukan untuk arisan atau senam pagi, melainkan melakukan tradisi legendaris bernama Hekente.
Mungkin kamu bertanya-tanya, apa sih Hekente itu? Kalau diibaratkan dunia digital, Hekente itu seperti software warisan leluhur yang sudah di-upgrade berkali-kali supaya tetap relevan dengan zaman sekarang. Ini adalah aktivitas mencari ikan yang dilakukan khusus oleh kaum perempuan dengan menggunakan alat tangkap tradisional. Bayangkan ratusan ibu-ibu dengan semangat membara, terjun ke perairan dangkal, membawa tombak atau alat tradisional lainnya, siap menaklukkan lautan. Ini bukan sekadar mencari lauk untuk makan malam, tapi sebuah pernyataan sikap bahwa budaya bahari kita punya "nyawa" yang sangat kuat.
Bukan Sekadar Cari Ikan, Ini Adalah "Skill" Bertahan Hidup
Kalau kita bicara soal kemandirian, zaman sekarang mungkin banyak yang mengaitkannya dengan punya start-up atau akun e-commerce yang laris manis. Tapi di Wakatobi, kemandirian itu didefinisikan lewat keberanian menghadapi ombak. Tradisi Hekente adalah simbol nyata dari ketangguhan perempuan. Mereka tidak hanya menunggu hasil tangkapan suami, tapi mereka turun tangan—atau lebih tepatnya, turun kaki—ke laut untuk menyokong ekonomi keluarga.
Analogi sederhananya begini: kalau ekonomi rumah tangga adalah sebuah kapal, maka suami dan istri adalah dua mesin penggerak yang harus seirama. Jika salah satu mesin mati, kapal akan oleng. Nah, Hekente adalah cara para ibu di Wakatobi memastikan mesin ekonomi mereka tetap menderu kencang, bahkan di tengah kondisi laut yang tidak selalu bisa ditebak. Mereka adalah pahlawan tanpa jubah, yang senjata utamanya adalah tombak kayu dan insting tajam yang diasah selama bertahun-tahun.
Jika kamu ingin tahu lebih dalam tentang bagaimana masyarakat pesisir menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi, kamu bisa intip tulisan saya lainnya di sini. Kita sering lupa bahwa di balik kemegahan hotel dan resort mewah, ada detak jantung budaya yang terus berdenyut lewat tradisi-tradisi seperti ini.
Bedak Basah, "Skin Care" Tradisional Sebelum Tempur
Satu hal yang bikin saya senyum-senyum sendiri melihat foto-foto kegiatan Hekente kemarin adalah persiapan para pesertanya. Sebelum terjun ke air, mereka memakai bedak basah di wajah. Eits, jangan salah sangka dulu, ini bukan karena mereka mau selfie di tengah laut!
Dalam dunia modern, kita mengenal sunblock atau skincare mahal untuk melindungi kulit dari sinar UV. Nah, bagi perempuan Wakatobi, bedak basah ini adalah sunblock organik kearifan lokal. Ini adalah bukti bahwa nenek moyang kita sudah sangat cerdas dalam memanfaatkan bahan alam. Mereka memadukan estetika dengan fungsi perlindungan kulit. Jadi, sambil berburu ikan, mereka tetap menjaga kecantikan dan kesehatan kulit dari teriknya matahari khatulistiwa. Ini adalah bentuk self-care yang autentik, bukan hasil racikan lab yang harganya selangit.
Mengapa Tradisi "Jadul" Ini Penting di Era Digital?
Mungkin ada yang berpendapat, "Duh, kenapa masih pakai cara lama? Kan sudah ada jaring modern atau alat pancing canggih?" Pertanyaan ini sangat wajar. Tapi, Hekente bukan soal efisiensi produksi ikan semata. Kalau hanya soal jumlah ikan, mungkin kita bisa beli di pasar swalayan.
Hekente adalah tentang koneksi. Koneksi antara manusia dan ekosistem laut yang mereka tinggali. Saat seseorang melakukan Hekente, mereka belajar membaca tanda-tanda alam: kapan air surut, di mana ikan bersembunyi, dan bagaimana menjaga kelestarian terumbu karang agar tidak rusak. Ini adalah big data versi tradisional. Mereka tidak mencatatnya di cloud, tapi menyimpannya di memori kolektif yang diturunkan dari ibu ke anak perempuan.
Jika tradisi ini punah, kita tidak hanya kehilangan teknik mencari ikan, tapi kita kehilangan "perpustakaan" hidup tentang bagaimana cara hidup berdampingan dengan laut tanpa harus mengeksploitasinya secara berlebihan. Di era di mana semuanya serba instan—seperti memesan makanan via aplikasi yang sampai dalam 30 menit—tradisi seperti Hekente adalah pengingat bahwa ada proses-proses penting yang butuh kesabaran dan keahlian tangan manusia.
Sisi Ekonomi: Perempuan sebagai Pilar Penyangga
Peran perempuan dalam ekonomi keluarga seringkali dianggap "sektor informal" atau "tambahan". Padahal, di banyak daerah pesisir Indonesia, merekalah yang menjadi tulang punggung yang memastikan dapur tetap mengepul. Melalui Hekente, para perempuan Wakatobi membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pendukung, tapi pemain utama dalam ekonomi bahari.
Bayangkan 600 peserta yang bergerak bersama. Jika satu orang bisa mendapatkan sekian kilogram ikan, kalikan dengan 600. Itu adalah jumlah protein yang sangat besar untuk kebutuhan gizi keluarga di Wakatobi. Ini adalah bentuk kedaulatan pangan berbasis komunitas yang sangat efektif. Tanpa perlu rantai pasok yang panjang, ikan segar langsung dari laut ke meja makan. Inilah yang disebut dengan local wisdom yang sebenarnya.
Untuk kamu yang tertarik dengan gaya hidup berkelanjutan dan bagaimana kita bisa mencontoh kearifan lokal ini dalam kehidupan sehari-hari, jangan lupa baca juga ulasan saya tentang tips hidup hemat ala warga pesisir.
Menjaga Warisan di Tengah Arus Zaman
Kegiatan di Maritim Center Wakatobi ini bukan hanya acara seremonial tahunan. Ini adalah bentuk pelestarian budaya yang sangat krusial. Di tengah gempuran gadget dan budaya pop yang membuat kita makin individualis, tradisi Hekente memaksa orang untuk keluar rumah, bertemu tetangga, bekerja sama, dan merayakan identitas sebagai masyarakat bahari.
Ini seperti memperbarui firmware pada perangkat yang sudah lama tidak dipakai. Dengan mengadakan acara berskala besar seperti ini, generasi muda Wakatobi jadi tahu bahwa mereka punya warisan yang keren. Bahwa nenek mereka adalah perempuan tangguh yang berani menantang ombak. Kebanggaan ini adalah kunci agar budaya tidak mati ditelan zaman.
Kesimpulan: Belajar dari Laut Wakatobi
Melihat aksi 600 perempuan di Wakatobi melakukan Hekente, kita diajarkan satu hal penting: kemandirian itu tidak harus selalu terlihat kaku dan serius. Kemandirian bisa dilakukan sambil tertawa, sambil memakai bedak basah, dan sambil menjaga kawan di sebelah kita agar tetap aman.
Hekente mengajarkan kita bahwa menjaga budaya tidak selalu berarti membangun museum. Kadang, menjaga budaya berarti tetap melakukannya, tetap bangga mengenakan alat tradisional, dan tetap berani turun ke laut meskipun dunia di luar sana sudah berubah menjadi serba digital.
Jadi, kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu yang menghubungkanmu dengan akar budaya atau alam sekitarmu? Mungkin kita tidak harus menombak ikan, tapi mungkin kita bisa mulai dengan menghargai proses, menjaga apa yang sudah diwariskan, dan tetap berdiri tegak layaknya para ibu di Wakatobi. Karena pada akhirnya, sehebat apa pun teknologi yang kita miliki, kita tetaplah makhluk yang butuh alam untuk bertahan hidup. Dan cara terbaik untuk bertahan hidup adalah dengan melestarikannya, bukan menghabisinya.
Salut untuk seluruh perempuan Wakatobi! Kalian bukan hanya sedang mencari ikan, kalian sedang menjaga jiwa bangsa ini tetap hidup di tengah luasnya samudra biru. Semoga tradisi Hekente terus terjaga, menjadi inspirasi bagi perempuan di seluruh penjuru Indonesia bahwa kemandirian adalah tentang seberapa berani kita melangkah ke depan, atau dalam hal ini, seberapa berani kita melangkah ke dalam ombak.
